Dosen FEB USK Dorong Kedaulatan Ekonomi melalui Empat Buku Manajemen, Dukung SDGs 4, 8, dan 10

Published by Waliam Mursyida on

Dosen FEB USK Dorong Kedaulatan Ekonomi melalui Empat Buku Manajemen, Dukung SDGs 4, 8, dan 10

Darussalam – Pengembangan ilmu manajemen tidak hanya berorientasi pada teori dan publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Semangat inilah yang diangkat Mukhlis, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), melalui empat buku yang membahas kedaulatan ekonomi, pengelolaan sumber daya manusia, pemasaran, dan filsafat ilmu manajemen.

Salah satu gagasan utama yang diangkat adalah pentingnya membangun pendekatan manajemen yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Dalam buku MSDM dalam Konteks Global, Mukhlis menekankan bahwa teori manajemen dari luar negeri tidak seharusnya diterapkan secara langsung tanpa mempertimbangkan kondisi lokal.

Menurutnya, persoalan sumber daya manusia dalam birokrasi dan organisasi daerah tidak hanya berkaitan dengan gaji maupun pengakuan, tetapi juga dipengaruhi oleh patronase, jenjang karier, nilai adat, serta rasa pengabdian. Oleh karena itu, teori global perlu dikaji secara kritis agar dapat digunakan secara tepat dalam menjelaskan fenomena lokal.

“MSDM global artinya kita mampu menjelaskan fenomena lokal dengan teori global, dan kita mampu menolak teori global yang tidak cocok dengan konteks kita,” ujarnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), khususnya dalam mendorong pengembangan pengetahuan dan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui perspektif ini, ilmu manajemen diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga menghasilkan pemahaman yang kontekstual dan aplikatif.

Sementara itu, melalui buku Teori Manajemen Pemasaran Lanjutan, Mukhlis memperkenalkan konsep Marketing Sovereignomic, yakni pendekatan pemasaran yang tidak sekadar berorientasi pada penjualan produk, tetapi juga membangun kesadaran konsumen terhadap kedaulatan ekonomi nasional.

Ia menilai, produk dalam negeri perlu memiliki kekuatan dalam membangun cerita, makna, dan kebanggaan konsumen. Dengan demikian, keputusan masyarakat untuk memilih produk lokal tidak hanya didasarkan pada harga, tetapi juga pada kesadaran untuk mendukung perekonomian nasional.

Pendekatan ini memiliki keterkaitan dengan SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui upaya mendorong penguatan usaha lokal dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kesadaran terhadap produk dalam negeri diharapkan turut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan daya saing dan memperluas kontribusinya terhadap perekonomian.

Adapun buku Filsafat Ilmu Manajemen menjadi landasan pemikiran bagi keseluruhan gagasan tersebut. Mukhlis mengajak kalangan akademisi untuk kembali mempertanyakan tujuan ilmu pengetahuan, termasuk dalam pendidikan doktoral yang tidak seharusnya hanya berorientasi pada publikasi ilmiah bereputasi.

Menurutnya, penelitian manajemen perlu melampaui pengujian variabel dan angka statistik untuk mengungkap mekanisme mendasar di balik berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Ia mencontohkan kemiskinan yang tidak cukup dipahami melalui data statistik, tetapi juga perlu dikaji dari faktor struktural, seperti praktik tengkulak, patronase, dan budaya sungkan yang memengaruhi pengambilan keputusan masyarakat.

“Ilmu manajemen yang tidak memihak pada kemaslahatan negeri dan masyarakat adalah ilmu yang mati,” tegasnya.

Perspektif tersebut relevan dengan SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan), yang menekankan pentingnya mengatasi berbagai faktor yang dapat mempertahankan ketimpangan sosial dan ekonomi. Melalui penelitian yang lebih mendalam, ilmu manajemen diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam menemukan solusi bagi masyarakat, termasuk kelompok yang menghadapi keterbatasan akses dan kesempatan ekonomi.

Mukhlis menjelaskan bahwa benang merah dari keempat buku tersebut adalah upaya membangun kedaulatan dalam investasi, sumber daya manusia, dan pemasaran yang ditopang oleh pemikiran filosofis. Keseluruhan gagasan itu dirangkum dalam konsep Sovereignomic.

Ia juga menegaskan bahwa keempat buku tersebut masih terbuka terhadap kritik dan masukan dari pembaca maupun kalangan akademisi. Karena itu, kegiatan bedah buku diharapkan tidak sekadar menjadi ruang apresiasi, tetapi juga wadah evaluasi untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah.

“Bedah buku bukan acara memuji penulis. Bedah buku adalah acara melukai buku, agar penulis tahu di mana harus menjahit kembali,” ungkapnya.

Buku-buku yang ditulis melalui kolaborasi bersama Prof. Jasman, Prof. Nazamuddin, Hendra Halim, T. Meldi, dan rekan-rekan tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa manajemen, khususnya pada jenjang magister dan doktor. Lebih dari itu, karya-karya ini diharapkan mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga menawarkan solusi nyata bagi persoalan ekonomi masyarakat.

Salah satu harapan terbesar Mukhlis adalah agar penelitian mahasiswa mampu melampaui pengujian variabel dan menghasilkan temuan baru yang bermanfaat bagi penguatan ekonomi desa serta pengembangan usaha kecil.

“Jika karena eksistensi buku-buku ini, satu saja disertasi yang tadinya hanya menguji variabel di Indonesia atau Provinsi Aceh berubah menjadi disertasi yang menemukan mekanisme baru untuk menyelamatkan ekonomi desa dan usaha kecil, maka kelelahan kami menulis selama ini sudah lunas,” tutupnya.

Melalui pengembangan ilmu pengetahuan yang kontekstual dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat, gagasan dalam keempat buku tersebut diharapkan dapat memperkuat peran pendidikan tinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 4, 8, dan 10.

Categories: Berita

Tim Web FEB USK 2024