FEB USK Perkuat Komitmen SDGs 1, 4, dan 8 melalui Seminar Series tentang Pengangguran Aceh dan Pembangunan Ekonomi Produktif

Published by Waliam Mursyida on

FEB USK Perkuat Komitmen SDGs 1, 4, dan 8 melalui Seminar Series tentang Pengangguran Aceh dan Pembangunan Ekonomi Produktif

Darussalam – Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK) kembali menggelar Seminar Series 04 pada Jumat (22/05/2026) di lingkungan FEB USK. Kegiatan ini mengangkat tema “Masa Depan Kerja Aceh: Mengurangi Pengangguran, Membangun Ekonomi Produktif” sebagai upaya membuka ruang diskusi akademik mengenai tantangan ketenagakerjaan dan pembangunan ekonomi di Aceh.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan FEB USK, Dr. Chenny Seftarita, S.E., M.Si.. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap persoalan ekonomi daerah, khususnya isu pengangguran, kualitas tenaga kerja, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Seminar kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si. yang membahas kondisi ketenagakerjaan Aceh secara komprehensif, mulai dari akar persoalan pengangguran hingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam pemaparannya, Prof. Apridar menjelaskan bahwa pengangguran di Aceh bukan sekadar persoalan angka statistik, melainkan cerminan dari masalah struktural yang lebih mendalam. Ia menyoroti masih lemahnya investasi produktif, terbatasnya industri penyerap tenaga kerja, ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, hingga dominasi sektor informal dan pertanian tradisional dengan produktivitas rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Aceh mencapai 149 ribu orang per Februari 2025 dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,50 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih banyak angkatan kerja yang belum terserap secara optimal oleh sektor-sektor produktif.

Selain itu, seminar juga membahas tingginya pengangguran terdidik di Aceh. Menurut Prof. Apridar, banyak lulusan perguruan tinggi yang belum mampu terserap dunia kerja akibat ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya sinkronisasi antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan dan kompetitif.

Tidak hanya itu, dominasi sektor informal dan pertanian tradisional juga menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Aceh. Sebagian besar tenaga kerja masih bekerja di sektor dengan produktivitas rendah, pendapatan tidak tetap, dan minim perlindungan sosial. Hal ini berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kemiskinan, hingga rendahnya daya saing sumber daya manusia.

Dalam forum tersebut, Prof. Apridar juga menekankan pentingnya penguatan investasi, reformasi pendidikan vokasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung industrialisasi sebagai langkah strategis dalam menciptakan lapangan kerja yang lebih layak dan produktif bagi masyarakat Aceh. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan angka, tetapi harus mampu menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat.

Diskusi yang berlangsung interaktif turut mengajak mahasiswa untuk memahami keterkaitan antara pengangguran, kemiskinan, produktivitas tenaga kerja, hingga beban fiskal daerah. Mahasiswa juga didorong untuk memiliki perspektif kritis terhadap tantangan pembangunan ekonomi Aceh sekaligus berkontribusi melalui inovasi, riset, dan pengembangan kapasitas diri.

Melalui Seminar Series 04 ini, FEB USK menunjukkan komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penguatan literasi ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Seminar ini juga mendukung SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi dengan mendorong terciptanya tenaga kerja yang kompetitif, produktif, dan adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan.

Selain itu, pembahasan mengenai pengurangan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat turut menjadi bagian dari implementasi SDG 1 dalam upaya mengurangi kemiskinan melalui pembangunan ekonomi yang inklusif dan penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.

Categories: Berita

Tim Web FEB USK 2024